MAKALAH (Ketahanan Hidup Masyarakat Kampung Adat Cireundeu, Cimahi)

Clara Ikamara Pramadia Putri 125020077

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan hidayahNya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Ketahanan Hidup Masyarakat Kampung Adat CIREUNDEU, Cimahi”. Makalah ini diajukan guna memenuhi nilai mata kuliah Budaya Sunda. Tidak lupa, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini.

Saya menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca makalah ini. Harapan saya semoga makalah ini bermanfaat dan menjadikan sumber pengetahuan bagi para pembaca.
Bandung, Desember 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Perumusan Masalah 2
1.3 Tujuan Pembuatan Makalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
2.1 Budaya 3
2.2 Budaya Sunda 4
2.3 Sejarah Berdirinya Masyarakat Kampung Adat Cireundeu, Cimahi 4
2.4 Ketahanan Hidup Masyarakat Kampung Adat Cireundeu, Cimahi 6
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 10
3.1 Kesimpulan 10
3.2 Saran 11
DAFTAR PUSTAKA 13

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Masyarakat desa adalah masyarakat yang kehidupannya masih banyak dikuasai oleh adat istiadat lama. Adat istiadat adalah sesuatu aturan yang sudah mantap dan mencakup segala konsepsi sistem budaya yang mengatur tindakan atau perbuatan manusia dalam kehidupan sosial hidup bersama, bekerja sama dan berhubungan erat secara tahan lama, dengan sifat-sifat yang hampir seragam.
Kampung Cireundeu mempunyai filosofi kehidupan yang sangat unik, dimana nuansa hidup yang santun dalam nafas setiap insan warga Kampung, mencintai lingkungan, budaya sunda dan kesenian khas masih terjaga dan terpelihara,sebagaian masyarakatnya masih mempertahankan adat leluhurnya, makanan pokonya nasi yang terbuat dari singkong atau di kenal dengan nama “Rasi” atau beras singkong, bahkan divervikasi produk makanan yang berbahan dasar singkong tersedia di kampung ini.
Kampung Cireundeu adalah salah satu model kampung yang sebagian besar penduduknya sudah meninggalkan ketergantungannya akan beras sebagai makanan pokok sehari hari, singkong adalah pilihannya yang telah terbukti menyelamatkan warganya dari krisis pangan yang terjadi sampai saat ini belum pernah terjadi kesulitan dan kekurangan kebutuhan akan makanan pokok. Singkong di kampung Cireundeu dapat di buat menjadi berbagai macam makanan, hal ini dapat dijadikan sebagai contoh yang dapat di implementasikan di daerah lain sebagai bukti nyata program ketahanan pangan.
Kampung adat Cireundeu merupakan kampung adat yang berada di dalam Kota Cimahi. Walaupun berada dalam kota, kampung ini memiliki tradisi dan adat yang masih dipegang teguh dari leluhur mereka. Perilaku masyarakatnya juga masih mencirikan adat dan tradisi masyarakat kampung yang lainnya, seperti gotong royong, saling membantu, dan dalam mata pencahariannya pun bersama-sama, saling membantu satu sama lain. Masyarakat cireundeu memegang teguh prinsip “Teu boga sawah asal boga pare, teu boga pare asal boga beas, teu boga beas asal nyangu, teu nyangu asal dahar, teu dahar asal kuat”.
Prinsip itulah yang mencirikan masyarakat adat kampung Cireundeu. Disisi kepercayaan, masyarakat di cireundeu memegang kepercayaan ateisme, mereka masih memegang kepercayaan dari leluhur mereka. Mereka menyebutnya ‘kuring’, karena merasa setiap ajaran yang mereka anut ini sebenarnya sama saja dengan agama lainnya seperti agama islam.
Hal itu bisa dilihat dari pemahaman simbol warna dimulai kuning, putih, merah hitam, yang dimana dalam setiap warna itu bisa berhubungan dengan ciri dari sejarah manusia itu sendiri. Warna merah mewakili amarah, kuning mewakili angin, hitam mewakili tanah, dan putih mewakili air. Masyarakat adat ini menganggap bahwa manusia itu terwujud dari keempat unsur itu. Pada intinya mereka juga menganggap bahwa Tuhan mereka itu juga adalah Allah akan tetapi berbeda dalam hal peribadatannya.
Untuk kepercayaan, ternyata di kampung adat Cireundeu ini ada beberapa masalah yang bisa kami angkat atau tema-tema yang menarik yang berkaitan dengan kearifan budaya lokal masyarakat Cireundeu. Sehingga nilai-nilai budaya yang mengalami perkembangan ataupun penurunan nilai-nilai budayanya itu sendiri. Adapun rincian dari perkembangan kampung ini bisa diklasifikasikan ke dalam beberapa unsur, yang dimana unsur-unsur tersebut dimulai dari keseniannya, mata pencaharian, sistem teknologi, bahasa, dll. Kemudian kami dapat melihat juga hasil budaya masyarakat setempat yang berkaitan dengan bentuk rumah masyarakat yang mengalami pergeseran nilai oleh perkembangan zaman.

1.2 Perumusan Masalah
Dalam makalah ini, saya mencoba mengangkat sebuah permasalahan utama dimana hal itu yaitu ”Ketahanan Hidup Masyarakat Kampung Adat Cireundeu, Cimahi” dan untuk menjawab rumusan masalah diatas tersebut, dalam beberapa pertanyaan yang saya buat dan hal itu ialah:
1. Apa definisi dari budaya?
2. Apa definisi dari budaya sunda?
3. Bagaimana sejarah berdirinya masyarakat adat kampung Cireundeu, Cimahi?
4. Bagaimana ketahanan hidup masyarakat kampung adat Cireundeu, Cimahi?

1.3 Tujuan Pembuatan Makalah
Dari hasil rumusan dan batasan masalah dalam ini, maka tujuan dari pembuatan makalah ini ialah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui definisi budaya.
2. Untuk mengetahui definisi budaya sunda.
3. Untuk mengetahui sejarah berdirinya masyarakat adat kampung Cireundeu, Cimahi.
4. Untuk mengetahui ketahanan hidup masyarakat kampung adat Cireundeu, Cimahi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang dan “kepatuhan kolektif” diCina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilailogis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

2.2 Budaya Sunda
Budaya Sunda adalah budaya yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat Sunda. Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat Sunda adalah periang, ramah-tamah (soméah), murah senyum, lemah-lembut, dan sangat menghormati orang tua. Itulah cermin budaya masyarakat Sunda. Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan tertua di Nusantara.
Kebudayaan Sunda yang ideal kemudian sering kali dikaitkan sebagai kebudayaan masaKerajaan Sunda. Ada beberapa ajaran dalam budaya Sunda tentang jalan menuju keutamaan hidup. Etos dan watak Sunda itu adalah cageur, bageur, singer dan pinter, yang dapat diartikan “sembuh” (waras), baik, sehat (kuat), dan cerdas.
Kebudayaan Sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu di lestarikan. Sistem kepercayaan spiritual tradisional Sunda adalah Sunda Wiwitan yang mengajarkan keselarasan hidup dengan alam. Kini, hampir sebagian besar masyarakat Sunda beragama Islam, namun ada beberapa yang tidak beragama Islam, walaupun berbeda namun pada dasarnya seluruh kehidupan di tujukan untuk kebaikan di alam semesta.
Kebudayaan Sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan–kebudayaan lain. Secara umum masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda, dikenal sebagai masyarakat yang lembut, religius, dan sangat spiritual. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo silih asih, silih asah dan silih asuh; saling mengasihi (mengutamakan sifat welas asih), saling menyempurnakan atau memperbaiki diri (melalui pendidikan dan berbagi ilmu), dan saling melindungi (saling menjaga keselamatan).
Selain itu Sunda juga memiliki sejumlah nilai-nilai lain seperti kesopanan, rendah hati terhadap sesama, hormat kepada yang lebih tua, dan menyayangi kepada yang lebih kecil. Pada kebudayaan Sunda keseimbangan magis di pertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat sedangkan keseimbangan sosial masyarakat Sunda melakukan gotong-royong untuk mempertahankannya.

2.3 Sejarah Berdirinya Masyarakat Kampung Adat Cireundeu, Cimahi
Kampung Cireundeu merupakan salah satu lokasi yang terletak dikelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi, hal ini berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Cimahi. Kampung Cireundeu terletak diperbatasan kota Cimahi dengan Kabupaten Bandung Barat tepatnya dengan Kecamatan Batujajar. Jarak dari kampung Cireundeu ke Kelurahan Leuwigajah -/+ 3 Km dan 4 Km ke kecamatan serta 6 Km ke kota atau Pemerintah Kota Cimahi, dengan keadaan topografi datar, bergelombang sampai berbukit.
Kampung Cireundeu dikelilingi oleh gunung Gajah langu dan Gunung Jambul disebelah Utara, gunung Puncak Salam di sebelah Timur, Gunung Cimenteng di sebelah Selatan serta Pasir Panji, TPA dan Gunung Kunci disebelah Barat. Dari ketinggian Gunung gajah langu -/+ 890 meter dpl. Selayang pandang terlihat jelas panorama Kota Cimahi, Kota Madya Bandung dan Kabupaten Bandung yang berada pada cekungan dan hamparan telaga.
Kampung Cireundeu, dimana dulu lebih dikenal dengan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Leuwi Gajah, kita jangan berharap akan melihat pemandangan lahan sawah yang menghijau atau padi yang menguning, seolah ingin mengubur dalam-dalam peristiwa longsornya gunungan sampah tanggal 21 Februari 2005 yang merenggut 157 nyawa, kini ditempat yang dulu gunungan sampah itu, kita akan banyak dimanjakan dengan pemandangan kebun singkong yang terbentang luas. Tempat ini adalah tempatnya masyarakat kita yang dinobatkan sebagai “Pahlawan Pangan” karena masyarakat disini makanan pokoknya bukan nasi tetapi singkong.
Masyarakat Cireundeu menyebut diri mereka penganut Sunda Wiwitan, Sunda Wiwitan sendiri mengandung arti Sunda yang paling awal dan bagi mereka agama bukan sarana penyembahan namun sarana aplikasi dalam kehidupan, karena itu mereka memegang teguh tradisi dan jarang sekali ditemukan situs-situs penyembahan. Pangeran Haji Ali Madrais yang diakui sebagai nenek moyang masyarakat Cireundeu mungkin mendapat gelar Haji bukan karena dia benar-benar pergi memenuhi rukun Islam tetapi mendapat sebutan Haji karena dianggap sebagai pemimpin atau imam.
Sunda Wiwitan adalah agama atau kepercayaan pemujaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur (animisme dan dinamisme) yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda. Akan tetapi ada sementara pihak yang berpendapat bahwa Agama Sunda Wiwitan juga memiliki unsurmonoteisme purba, yaitu di atas para dewata dan hyang dalam pantheonnya terdapat dewa tunggal tertinggi maha kuasa yang tak berwujud yang disebut Sang Hyang Kersa yang disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Penganut ajaran ini dapat ditemukan di beberapa desa di provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti di Kanekes, Lebak, Banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi, Kampung Naga, Cirebon, Cigugur, Kuningan, dan salah satunya Kampung adat Cireundeu, Cimahi. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu dan Islam.
Aliran kepercayaan Sunda Wiwitan masih eksis bertahan dan memiliki penganut setia di Kampung Cireundeu. Namun dari segi keunikannya, warga kampung ini masih mengonsumsi singkong sebagai makanan pokok dan mayoritas masih menjalankan ajaran Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan itu. Secara fisik Cireundeu memang kampung biasa, namun karena ketatnya menjalankan tradisi karuhun, kampung ini akhirnya dikukuhkan secara de facto sebagai kampung adat. Kepercayaan ini dikenal juga sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang), agama Sunda Wiwitan, ajaran Madrais atau agama Cigugur.
Mereka percaya pada Tuhan, dan teguh menjaga kepercayaan serta menjaga jatidiri Sunda mereka agar tidak berubah. Falsafah hidup masyarakat Cireundeu belum banyak berubah sejak puluhan tahun lalu, dan mereka masih memegang ajaran moral tentang bagaimana membawa diri dalam hidup ini. Ritual 1 Sura yang rutin digelar sejak kala, merupakan salah satu simbol dari falsafah tersebut. Upacara suraan, demikian warga Cireundeu menyebutnya, memiliki makna yang dalam. Bahwa manusia itu harus memahami bila ia hidup berdampingan dengan mahluk hidup lainnya. Baik dengan lingkungan, tumbuhan, hewan, angin, laut, gunung, tanah, air, api, kayu, dan langit. “Karena itulah manusia harus mengenal dirinya sendiri, tahu apa yang dia rasakan untuk kemudian belajar merasakan apa yang orang lain dan mahluk hidup lain rasakan”.
Kampung Cireundeu mempunyai filosofi kehidupan yang sangat unik, dimana nuansa hidup yang santun dalam nafas setiap insan warga kampung, mencintai lingkungan, budaya sunda dan kesenian khas masih terjaga dan terpelihara, sebagian masyarakatnya masih mempertahankan adat leluhurnya .
Masyarakat adat Kampung Cireundeu menganut kepercayaan tersendiri. Penduduk kampung Cireundeu tersebut pada mulanya menggunakan beras sebagai makanan pokoknya. Alasan beralih menjadi singkong sebagai makanan pokok karena pada masa penjajahan Belanda terjadi kekurangan pangan khususnya beras. Oleh karenanya pengikut aliran kepercayaan tersebut diwajibkan berpuasa dengan cara mengganti nasi beras dengan nasi singkong sampai waktu yang tidak terbatas. Tujuan berpuasa adalah agar segera merdeka lahir dan bathin, menguji keyakinan para penganut aliran kepercayaan serta agar mereka selalu ingat pada Tuhan Yang Maha Esa.

2.4 Ketahanan Hidup Masyarakat Kampung Adat Cireundeu, Cimahi
Kampung Cireundeu adalah sebuah bukit kecil yang dihuni oleh 50 KK atau 800 jiwa yang memiliki tradisi berbeda. Sebagian penduduk Cireundeu, sejak ratusan tahun silam (sejak tahun 1918), tidak pernah menggunakan beras lagi sebagai bahan makanan pokok. Masyarakat Kampung Cireundeu merupakan suatu komunitas adat kesundaan yang mampu memelihara, melestarikan adat istiadat secara turun temurun dan tidak terpengaruhi oleh budaya dari luar. Situasi kehidupan penuh kedamaian dan kerukunan “silih asah, silih asih, silih asuh, tata, titi, duduga peryoga“
Mereka memegang teguh pepatah Karuhun Cireundeu, yaitu: “Teu nanaon teu boga huma ge asal boga pare, Teu nanaon teu boga pare gi asal boga beas, Teu nanaon teu boga beas ge asal bisa ngejo, Teu nanaon teu bisa ngejo ge asal bisa nyatu, Teu nanaon teu bisa nyatu ge asal bisa hirup.”
Masyarakat Cireundeu menghormati leluhur mereka dengan tidak memakan nasi melainkan singkong. Pangeran Madrais pernah berkata, jika orang Cireundeu tidak mau terkena bencana maka pantang makan nasi. Sekarang terbukti, dimana orang lain bingung memikirkan harga beras yang makin naik, warga sini adem ayem saja karena singkongnya pun hasil kebun sendiri.
Beralihnya makanan pokok masyarakat adat kampung Cireundeu dari nasi beras menjadi nasi singkong dimulai kurang lebih tahun 1918, yang dipelopori oleh Ibu Omah Asmanah, putra Bapak Haji Ali yang kemudian diikuti oleh saudara-saudaranya di kampung Cireundeu. Ibu Omah Asmanah mulai mengembangkan makanan pokok non beras ini, berkat kepeloporannya tersebut Pemerintah melalui Wedana Cimahi memberikan suatu penghargaan sebagai “ Pahlawan Pangan”, tepatnya pada tahun 1964.
Pada masa tugas Bupati Memed yang mempunyai perhatian besar terhadap makanan pokok singkong, makanan pokok penduduk kampung Cireundeu tersebut sering diikutsertakan pada pameran-pameran makanan non beras yang mewakili Kabupaten Bandung. Salah satu tujuan diperkenalkannya berbagai jenis makanan yang terbuat dari singkong dan proses pembuatan nasi singkong adalah agar masyarakat pada umumnya tidak tergantung pada beras sebagai makanan pokok.
Selain tersebut diatas kearifan budaya lokal masih sangat kental yang selalu diterapkan dilingkungan masyarakat adat kampung Cireundeu. Kepedulian dan kecintaannya terhadap alam dan lingkungan sekitar menjadi bagian dari kehidupan warga, sebagaimana petuah leluhurnya dalam rangka menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan dalam bahasa sunda sebagai berikut : “Gunung Kaian, Gawir Awian, Cinyusu Rumateun, Sampalan Kebonan, Pasir Talunan, Dataran Sawahan, Lebak Caian, Legok Balongan, Situ Pulasaraeun, Lembur Uruseun, Walungan Rawateun, jeung Basisir Jagaeun “.
Petuah leluhurnya dalam rangka menjaga dan melestarikan alam dan hutan dalam bahasa sunda sebagai berikut : “Saha anu wani ngarempak jagat Pasundan leuweung kahiyangan isuk jaganing pageto pati kudu wani disanghareupan Nu wani ngaguna sika leuweung saliara karamat tutupan hirup cadu mawa hurip, kaluhur ulah sirungan ka handap ulah akaran..Nu nisca kalakuan remen nigas pucuk linduh dinatangkal hirup teu maslahat hamo lana dipungkas nemahing ajal. Cahaya isun meting kawani titis galur siliwangi. Ya isun tajimalela nu rek ngajaga wana nepikeun ka pejah nyawa”. ( Kata-kata ini milik paguyuban silaturahmi warga kampung Cireundeu, dilindungi undang-undang RI Nomor 12 tahun 1997 bab VI Ketentuan Pidana Pasal 44 ayat 1 dan 2).
Kampung Cireundeu adalah salah satu kampung yang sebagian besar penduduknya sudah meninggalkan ketergantungannya akan beras sebagai makanan pokok sehari-hari. Singkong adalah pilihannya yang telah terbukti menyelamatkan warganya dari krisis pangan yang telah terjadi. Sampai saat ini belum pernah terjadi kesulitan dan kekurangan kebutuhan akan makanan pokok. Singkong di kampung Cireundeu dapat dibuat menjadi berbagai macam makanan, hal ini dapat dijadikan sebagai contoh yang bisa diimplementasikan di daerah lain sebagai bukti nyata Program Ketahanan Pangan.
Potensi kegiatan pengolahan singkong yang dilakukan oleh warga Kampung Cireundeu dapat memberikan banyak manfaat, salah satunya dapat meningkatkan perekonomian warga kampung secara signifikan dibandingkan dengan hanya menjual singkong dalam kondisi bahan mentah. Pola makanan pokok kampung Cireundeu mudah-mudahan dapat dijadikan contoh dan disosialisasikan ke khalayak umum di seluruh wilayah Indonesia. Sehingga harapan dari program ketahanan pangan dapat terwujud, agar kita dapat terbebas dari krisis pangan yang selalu menghantui masyarakat kecil khususnya, dengan sendirinya beban pemerintah akan subsidi pemenuhan beras akan berkurang.
Masyarakat Kampung Cireundeu pada umumnya telah terbiasa dengan kegiatan budidayaan tanaman singkong, dari mulai proses pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan pembuatan beraneka ragam jenis makanan yang berbahan dasar singkong, salah satunya adalah “Rasi” atau beras singkong. Hal ini telah dilakukan sejak lebih dari 80 tahun, dan merupakan keseharian masyarakat kampung Cireundeu hingga saat ini. Dalam kehidupan keseharian penduduk kampung Cireundeu dapat dikatakan sudah mandiri pangan dalam hal makanan pokok, sehingga tidak terpengaruh oleh gejolak sosial terutama pada harga beras. Taraf ekonomi masyarakat kampung Cireundeu sudah tidak ada yang kekurangan, dalam hal mengkonsumsi beras singkong bukan disebabkan oleh kondisi ekonominya tetapi disebabkan karena tradisi yang dianutnya.
Masyarakat kampung Cireundeu, Cimahi juga masih mempertahankan budaya lokal bercocok tanam secara tradisional, baik dalam hal teknik bertanam hingga penggunaan pupuk alami. Selain itu mereka pun termasuk masyarakat yang mandiri pangan, yaitu menanam beragam tanaman mulai dari bahan makanan pokok, sayuran, hingga obat-obatan.
Di bidang peternakan masyarakat adat kampung Cireundeu mengusahakan ternak domba dan ayam. Misalnya Populasi ternak di kampung Cireundeu yang paling dominan adalah ternak domba yakni sekitar 100 ekor, sedangkan ternak ayam hanya sekitar 70 ekor. Hal ini karena ternak domba dapat dimanfaatkan untuk penggunaan limbah singkong berupa kulit dan daunnya sebagai makanannya.
Agroindustri yang sedang berjalan di kampung Cireundeu berupa pengolahan diversifikasi produk makanan yang berbahan dasar singkong, diantaranya pembuatan rasi, kerupuk aci, opak singkong, ranggining, aci singkong, tape gendul, peuyeum mutiara, isrud, ciwel, sorandil,kecimpring, awug, katimus dan gegetuk. Saat ini dilakukan di beberapa lokasi dan rumah penduduk jadi belum ada tempat khusus / pabrik pengolahan yang tersentralisasi.
Diversifikasi produk olahan dari bahan dasar singkong segar ini dapat dibuat menjadi Beras singkong (Rasi) dan kanji. Selain itu limbah olahannya yaitu kulitnya dapat dijadikan nilai tambah yang sangat berarti untuk pakan ternak.
Di Kampung Cireundeu Kota Cimahi penganekaragaman produk olahan singkong sudah berjalan selama puluhan tahun. Produk olahan tersebut mempunyai nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan singkong segar hasil panen.
Dengan adanya industri pengolahan tersebut, hasil proses produksinya dapat segera tersosialisasi kepada masyarakat umum., apabila hal ini terjadi akan mendorong tumbuhnya kemandirian pangan di lingkungan keluarga, masyarakat dan akhirnya ketahanan pangan nasional dapat segera tercapai.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Kampung Cireundeu dengan segala keunikannya tidak saja dikenal oleh lingkungan masyarakat Kota Cimahi, namun sudah dikenal luas karena mempunyai ciri khas dalam kehidupannya sehari-hari. Salah satu keunikannya adalah makanan pokoknya singkong dan tanaman singkongnya pun menanam sendiri disekitar lokasi kampung.
Kampung Cireundeu menjadi suatu kampung yang hampir tidak pernah terpengaruh oleh gejolak sosial yang sering terjadi terutama mahalnya harga makanan pokok terutama beras. Menurut hemat kami kampung Cireundeu telah menjadi Pilot Project dalam rangka melaksanakan program ketahanan pangan, terbukti bahwa masyarakat setempat makanan pokoknya tidak bergantung pada beras, dengan kata lain bahwa kampung Cireundeu sudah menjadi kampung yang Mandiri Pangan.
Kampung Cireundeu adalah sebuah bukit kecil yang dihuni oleh 50 KK atau 800 jiwa yang memiliki tradisi berbeda. Sebagian penduduk Cireundeu, sejak ratusan tahun silam (sejak tahun 1918), tidak pernah menggunakan beras lagi sebagai bahan makanan pokok. Masyarakat Kampung Cireundeu merupakan suatu komunitas adat kesundaan yang mampu memelihara, melestarikan adat istiadat secara turun temurun dan tidak terpengaruhi oleh budaya dari luar. Situasi kehidupan penuh kedamaian dan kerukunan “silih asah, silih asih, silih asuh, tata, titi, duduga peryoga“
Mereka memegang teguh pepatah Karuhun Cireundeu, yaitu: “Teu nanaon teu boga huma ge asal boga pare. Teu nanaon teu boga pare ge asal boga beas Teu nanaon teu boga bias ge asal bisa ngejo Teu nanaon teu bisa ngejo ge asal bisa nyatu. Teu nanaon teu bisa nyatu ge asal bisa hirup.”
Nasi yang terbuat dari singkong adalah makanan pokok masyarakat adat Cireundeu sampai sekarang. Tradisi ini telah terbukti menjadikan masyarakat Cireundeu mandiri dan tidak tergantung dengan beras yang menjadi makanan pokok mayoritas rakyat Indonesia. Oleh karena itu, semua dinamika yang terkait dengan beras seperti naiknya harga atau kelangkaan pasokan beras tidak terlalu berpengaruh bagi kehidupan mereka.
Konsumsi nasi singkong oleh masyarakat Cireundeu semenjak puluhan tahun silam membuktikan keberhasilan masyarakat adat dalam menjaga eksistensinya yang independen dari intervensi kekuasaan politik. Peralihan konsumsi nasi beras menjadi nasi singkong oleh warga Cireundeu telah dilakukan jauh sebelum digalakkannya program diversifikasi pangan oleh berbagai instansi pemerintah. Liberalisasi dan komersialisasi komoditi pangan yang cenderung mematikan daya beli konsumen dari kalangan miskin serta mengamputasi para produsen pangan lokal pun tidak dirasakan masyarakat Cireundeu.
Warga Cireundeu juga luput dari penyeragaman konsumsi beras di era Orde Baru yang menafikan keberagaman pangan nusantara. Karena luput dari kebijakan pangan Orde Baru itulah, masyarakat Cireundeu terhindar dari bencana kelaparan seperti yang dialami penduduk Papua atau Maluku kini. Banyak penduduk di kedua daerah tersebut menjadi korban dari kebijakan beras-isasi Orde Baru yang menyalahi kondisi geografis dan kultural daerah-daerah tersebut.
Ketahanan pangan yang diperlihatkan warga Cireundeu menarik perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah. Kampung adat Cireundeu kerap dijadikan kampung percontohan ketahanan maupun diversifikasi pangan yang berhasil di Jawa Barat, bahkan Indonesia. Respon pemerintah terhadap tradisi masyarakat Cireundeu ini dapat dilihat sebagai suatu bentuk apresiasi pemerintah pada keberhasilan warga Cireundeu dalam menjaga ketahanan pangannya dengan berlandaskan kearifan lokal.
Namun disisi lain, sikap pemerintah selaku pemegang otoritas tertinggi di republik ini kontradiktif bila meninjau kebijakan diskriminatif yang memasung kebebasan masyarakat Cireundeu untuk beragama dan berkeyakinan masih terus dipertahankan hingga era reformasi kini. Melihat kebijakan pangan pemerintahan saat ini yang masih menghamba pada produk impor, tanpa keseriusan membenahi sektor pertanian negeri ini demi terwujudnya kedaulatan pangan. Sudah selayaknya kita belajar dari mereka yang telah teruji melewati dinamika sejarah tanpa mengabaikan hak-hak mereka guna menyonsong masa depan yang lebih baik, masa depan yang berdaulat.

3.2 Saran
Kampung adat Cireundeu dijadikan kampung percontohan ketahanan pangan yang berhasil di Jawa Barat, bahkan Indonesia. Respon pemerintah terhadap tradisi masyarakat Cireundeu ini dapat dilihat sebagai suatu bentuk apresiasi pemerintah pada keberhasilan warga Cireundeu dalam menjaga ketahanan pangannya.
Saran saya ada baiknya kebiasaan kampung adat Cireundeu mengonsumsi Rasi ( Beras Singkong ) juga bisa diterapkan pada warga – warga Jawa Barat lainnya atau pada warga – warga Indonesia. Karna tradisi ini telah terbukti menjadikan masyarakat Cireundeu mandiri dan tidak tergantung dengan beras yang menjadi makanan pokok mayoritas warga Indonesia.
Dan besar, harapan saya agar tidak hanya masyarakat kampung adat Cireundeu yang tidak ketergantungan terhadap beras tetapi masyarakat Indonesia juga bisa tidak ketergantungan terhadap beras menjadi makanan pokok mayoritas warga Indonesia.
Dan tradisi warga Indonesia yang menyukai bercocok tanam secara tradisional, baik dalam hal teknik bertanam hingga penggunaan pupuk alami. Dan sangat cocok untuk budidaya singkong dan tidak sulit dicari sehingga warga Indonesia bisa seperti kampung adat Cireundeu yang bercocok tanam dan mengkonsumsi singkong setiap harinya, tidak menjadi ketergantungan terhadap beras. Inilah salah satu ketahanan hidup masyarakat kampung adat cireundeu yang harapan saya mungkin bisa menjadi ketahanan hidup warga Indonesia juga.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Sunda
http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Wiwitan
http://sukmazaman.blogspot.com/2012/01/kampung-adat-cireundeu.html
http://noeng666.blogspot.com/2012/03/penelitian.html
http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20110910/kedaulatan-pangan-masyarakat-adat-cireundeu.html

One thought on “MAKALAH (Ketahanan Hidup Masyarakat Kampung Adat Cireundeu, Cimahi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s